Basic Psychological Feature In Cyberspace

Identity Flexibility in Cyberspace


            Adanya cyberspace telah mempermudah kita dalam berinteraksi. Cyberspace memberikan kesempatan untuk menampilkan identitas dirinya, dengan berbagai cara yang biasa disebut dengan identity flexibility. Identity flexibility adalah suatu kondisi dimana seseorang dapat menggunakan identitas apapun yang diinginkannya. Kita dapat menampilkan identitas diri yang sesungguhnya seperti di dunia nyata, namun kita juga dapat mengubah identitas diri yang berbeda, seperti mengubah nama, usia, kepribadian, penampilan fisik, bahkan jenis kelamin.
            Kurangnya isyarat tatap muka memiliki dampak yang aneh pada bagaimana orang menyajikan identitas mereka di dunia maya. Berkomunikasi hanya dengan teks yang diketik, kita memiliki pilihan untuk menjadi diri sendiri, dengan cara mengekspresikan sebagian dari identitas kita dengan asumsi identitas imajinatif atau tetap sepenuhnya anonim. Di banyak lingkungan, kita dapat memberi diri kita nama apapun yang kita inginkan. Dunia multimedia juga menawarkan kesempatan untuk mengekspresikan diri kita melalui kostum visual yang dikenal sebagai “avatar”. Kadang-kadang orang menggunakannya untuk memerankan beberapa kebutuhan atau emosi yang tidak menyenangkan, seringkali dengan melecehkan orang lain. Dengan identitas itu juga, memungkinkan kita untuk jujur dan terbuka tentang beberapa masalah pribadi yang tidak dapat dibicarakan dalam pertemuan tatap muka.
            Internet  menawarkan kesempatan bagi orang untuk bereksperimen dengan identitas mereka. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan mengganti gender seseorang. Di ruang obrolan teks, langkah pertama adalah mengubah nama online seseorang. Dalam "habitat" visual ada tantangan tambahan untuk menciptakan "avatar" dengan gender yang berbeda atau "penyangga" untuk secara visual mewakili diri baru seseorang. Pilihan nama atau avatar dapat sangat memengaruhi gambar yang ingin digunakan. Setelah memilih nama dan penampilan baru, muncul hal yang lebih menantang yaitu mencoba memainkan peran sebagai lawan jenis yang dipilih seseorang. Itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan.
            Bersosialisasi dalam cyberspace membuat seseorang memerlukan identitas virtual sebagai perwakilan identitas dirinya. Dengan identitas virtual seseorang dapat menjadi siapa saja yang di inginkannya tanpa harus sesuai dengan identitas dalam dunia nyata dan tanpa ada aturan yang berlaku didalamnya. Misalnya kasus identitas virtual anonimitas, yaitu tidak melibatkan kontak secara fisik yang membuat individu dapat  menyembunyikan identitas diri yang sebenarnya.
Terdapat tiga tipe anonimitas, yaitu :
1.      Anonymity       : identitas yang sebenarnya tidak ditampilkan.
2.      Psuedonymity : seseorang menggunakan nama lain yang bukan dirinya
3.      Deception        : seseorang yang memberikan kesan bahwa ia adalah orang lain
            Namun identitas virtual anonimitas juga dapat berdampak negatif apabila seseorang membuat akun media sosial dengan identitas palsu, melakukan kejahatan seperti penipuan, perjudian, penyebaran informasi palsu (hoaks) serta penyebaran gambar atau video berkonten negatif dalam dunia maya.



Sumber :

https://www.researchgate.net/publication/37366481_The_Psychology_of_Cyberspace


http://www-usr.rider.edu/~suler/psycyber/basicfeat.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu Internet?

HUBUNGAN ILMU BUDAYA DASAR DAN KESUSASTRAAN