Identitas Virtual dan Identitas Nyata


Antara Identitas Virtual dan Identitas Nyata


Salah satu hal yang terus menjadi perbincangan dalam cyberculture adalah tentang identitas virtual (virtual identity). Perbincangan tentang identitas ini menjadi menarik mengingat ada perbedaan konsep diri “self” antara identitas di dunia nyata dan identitas di cyberspace. Dalam dunia nyata, konsep identitas dipahami dengan satu paham bahwa “satu tubuh, satu identitas” (Judith, 1996:65). Identitas tersebut akan terpaku dalam satu tubuh yang akan berkembang dan berubah seiring bertambahnya usia. Dalam dunia virtual, seseorang dalam dunia nyata bisa saja membuat satu, dua, tiga, atau bahkan ribuan identitas virtual sesuai dengan kemauan dan kemampuan.

Ada dua kondisi yang menggambarkan bagaimana keberadaan individu dan konsekuensinya dalam berinteraksi di internet, yaitu:
   1.       Untuk melakukan koneksitas di cyberspace setiap orang harus melakukan logging in atau melakukan prosedur tertentu— seperti menulis username dan password untuk membuka akses ke e-mail, situs jaringan sosial, atau laman web lainnya. Ketika prosedur tersebut dilalui, maka individu akan mendapatkan semacam their own individualised place di mana setiap individu mendapatkan laman khusus yang hanya bisa diakses oleh individu tersebut saja atau yang biasa disebut dengan istilah akun (account)
     2.       memasuki dunia virtual kadangkala juga melibatkan keterbukaan dalam identitas diri sekaligus juga mengarahkan bagaimana individu tersebut mengidentifikasikan atau mengkonstruksi dirinya di dunia virtual (Jordan, 1999:60).

Identitas virtual tidak memiliki tautan yang sifatnya rigid dari waktu ke waktu. Seorang individu bisa saja melakukan simulasi realitas sosial dirinya melalui internet dengan berpindah dari satu identitas yang sudah dia konstruksi ke identitas lainnya hanya dalam hitungan detik. Selain itu, komponen-komponen identitas dalam dunia nyata misalnya umur, jenis kelamin, ras, tingkat pendidikan, tempat tinggal, dan status perkawinan menjadi sangat bias ketika identitas dikonstruksikan melalui CMC dan semua terkadang melebihi dari realitas nyata (hiper realitas).

Dalam terminologi estetika, Bell berpendapat bahwa keberadaan media digital seperti internet membawa perubahan estetika (objek) tersendiri yang mengikuti perkembangan teknologi komputer. Bahwa objek yang selama ini ada di cyberspace seperti e-mail, messenger, website dan lain sebagainya telah mengalami perkembangan sehingga semakin mudah dan nyaman dioperasikan (user friendly). (Rulli, 2012:22). Komputer semakin menjadi kecil dan compact. interaksi manusia dengan komputer juga semakin dinamis, tidak lagi satu arah melainkan banyak arah.

Komputer sudah bukan lagi mesin biasa tetapi dia adalah artificial intelegent yang pada saat kita berinteraksi dengannya dia menjadi environment baru. Environment tersebut di respon sebagai atmosfer yang berbeda oleh otak kita. Atmosfer komputer ini adalah dunia yang positif, yang negatif, yang jujur, yang palsu, yang beroposisi dapat melebur jadi satu, sangat kaya informasi hingga menjadi polusi. (Heim, 1993: 95).

Dunia yang terpolusi ini adalah tempat dimana manusia saling berinteraksi secara virtual mempertukarkan tanda-tanda tanpa makna, kemasan dari pada isi, instan daripada esensi. Tanda-tanda palsu (pseudo sign) meluncur bebas sebagai informasi yang menjelma menjadi tontonan yang indah-indah, yang bagus, yang seharusnya, dan yang benar. Tontonan menjadi komoditi yang laris manis diantara masyarakat posmodern, seperti candu ia harus terus menerus dikonsumsi.

Sebagai contohnya, berkomunikasi virtual di cyberspace melalui sosial media baik twitter, facebook, Instagram, Blackberry ataupun Whatsapp seseorang dapat dengan bebas mendaftar dengan gratis kemudian memajang profil diri dengan pilihan gambar yang paling bagus agar terlihat cantik/ tampan atau lebih kaya, mereka menampilkan idealism di dalamnya. Tampilan tersebut mewakili dirinya, dipercaya dan ditonton sebagai dirinya dalam media sosial di ruang virtual dan menghabiskan waktu berjam-jam berselancar online. Secara tidak sadar aktivitas tersebut menjadi candu tontonan yang memuaskan, memberikan tampilan yang indah, yang seharusnya, yang benar dan sepertinya yang real yang semuanya dibatasi oleh layar kaca.

Pada akhirnya, manusia akan menjadi teralienasi dengan lingkungan sosial dengan lingkungan sekitar mereka, karena mereka sibuk dengan gadget masing-masing. Mereka terjebak dalam pencitraan di dunia virtual, baik dalam menciptakan citranya sendiri maupun dalam memandang manusia lain. Ini pun sesuai dengan pernyataan Baudrillard, “kita terbiasa hidup dalam cermin fantasi, dalam diri yang terbagi dan dalam alienasi.” Manusia saat ini terhubung dengan berbagai aplikasi media sosial yang membantu mereka untuk terhubung dengan manusia lain yang bisa berjarak ribuan mil melalui layar dan jaringan. Namun pada saat yang sama membuat jarak dengan mereka yang dekat dan mengalienasi mereka dengan lingkungan sosialnya. Manusia pun terjebak menjadi mahluk citra, baik dalam artian secara harfiah maupun secara kiasan.

Daftar Pustaka
              Bell, David. 2001. An Introduction to Cybercultures, London and New York: Routledge
                Jordan, Tim. 1999. Cyberpower, The culture and Politcs of Cyberspace and The Internet, London and New York: Routledge

                Donath, Judith S. 1996. Identity and Deception in The Virtual Community. MIT Media Lab. London: Routledge

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu Internet?

HUBUNGAN ILMU BUDAYA DASAR DAN KESUSASTRAAN